Address
304 North Cardinal St.
Dorchester Center, MA 02124

Work Hours
Monday to Friday: 7AM - 7PM
Weekend: 10AM - 5PM

Sepekan Dunia Pertambangan

Informasi Dunia Pertambangan Indonesia dan Luar Negeri dalam Sepekan Terakhir

HMA Nikel Desember 2024: Harga Turun tapi Prospek Pasar Nikel Indonesia Cukup Baik

SELAIN Indonesia Nickel Price Index (INPI), Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI) juga merilis harga Harga Mineral Acuan (HMA) untuk bijih nikel pada Desember 2024, yang tercatat sebesar US$15.822,95 per dry metric ton (dmt). Ini menunjukkan penurunan dibandingkan dengan harga HMA November 2024, yang tercatat sebesar US$17.072,14 per dmt. Penurunan ini mengindikasikan adanya tekanan pada pasar, baik yang disebabkan oleh faktor-faktor eksternal, seperti fluktuasi harga global, maupun dinamika ekonomi domestik.

Berikut adalah rincian harga HMA Nikel berdasarkan kadar dan kondisi masing-masing pada Desember 2024.Untuk nikel kadar 1,60%, dengan CF 17% dan MC 30% (FOB per wmt), berada pada level US$30,13, dan MC 35% (FOB per wmt) berada di level US$27,97.Nikel kadar 1,70%, dengan CF 18% dan MC 30% (FOB per wmt), berada di level US$33,89, dan MC 35% (FOB per wmt) berada di level US$31,47. Untuk nikel kadar 1,80% yang menggunakan CF 19% dan MC 30% (FOB per wmt) berada di level US$37,88, dan untuk MC 35% (FOB per wmt) berada di level US$35,17.Untuk Nikel kadar 1,90% yang menggunakan CF 20% dan MC 30% (FOB per wmt) berada di level US$42,09, dan MC 35% (FOB per wmt) berada di level US$39,08. Nikel kadar 2,00% yang menggunakan CF 21% dan MC 30% (FOB per wmt) berada di level US$46,52, dan MC 35% (FOB per wmt) berada di level US$43,20.

Pasar nikel Indonesia cukup baik meski beberapa jenis produk bijih nikel menunjukkan penurunan harga, kondisi pasar secara keseluruhan masih menunjukkan ketahanan yang cukup baik. Penurunan harga pada beberapa jenis bijih nikel bisa jadi merupakan dampak dari fluktuasi harga pasar global, yang seringkali dipengaruhi oleh faktor eksternal seperti kebijakan perdagangan internasional, harga energi, dan perkembangan sektor industri global yang menggunakan nikel, terutama untuk produksi kendaraan listrik dan baterai.

Namun, Indonesia tetap menjadi salah satu produsen terbesar nikel dunia dan memiliki peran kunci dalam penyediaan nikel untuk industri baterai kendaraan listrik, yang diperkirakan akan terus berkembang pesat dalam beberapa tahun mendatang. Dengan potensi besar di sektor ini, harga bijih nikel Indonesia masih memiliki peluang untuk stabil dan bahkan meningkat seiring dengan permintaan global yang terus berkembang. APNI juga menyarankan agar para pelaku industri nikel domestik, baik produsen maupun konsumen, terus memantau perkembangan harga dan strategi pasar, guna memanfaatkan peluang serta mengantisipasi dinamika harga yang mungkin terjadi dalam waktu dekat. (Shiddiq)

Sumber: nikel.co.id, 23 Desember 2024

PTBA: PPN 12% Jadi Sentimen Negatif Batu Bara Saat Harga Bearish

PT BUKIT Asam (Persero) Tbk (PTBA) menyatakan kenaikan pajak pertambahan nilai (PPN) dari 11% menjadi 12% per 1 Januari 2025 menjadi tantangan tersendiri bagi industri batu bara dari sisi domestik, di tengah potensi yang cenderung stagnan dengan tren menurun tahun depan. “Sudut pandang kami lebih ke arah potensi naiknya biaya operasional imbas dari pemberlakuan PPN 12% di tengah potensi harga batu bara yang cenderung stagnan dengan tren menurun pada 2025,” kata Sekretaris Perusahaan PTBA Niko Chandra saat dihubungi, dikutip Senin (23/12/2024).

Selain itu, tantangan lainnya yakni adanya isu pemberlakuan pajak alat berat bisa berpotensi meningkatkan biaya jasa penambangan. Akan tetapi, PTBA masih meyakini permintaan batu bara di tingkat global akan terus meningkat karena kebutuhan energi global terutama dari sektor pembangkit listrik di negara-negara berkembang khususnya Asia Tenggara dan Asia Selatan masih tinggi. 

Niko menyebut PTBA senantiasa mendorong ekspor dengan memanfaatkan peningkatan permintaan dari negara-negara berkembang di Asia Tenggara dan Asia Selatan. “Dapat dilihat dari kinerja penjualan kami hingga triwulan III-2024, di mana porsi ekspor kami mencapai 46% dan dari sisi volumenya meningkat 27% secara tahunan,” tutur Niko.

Menurut dia, faktor pendorong tingginya permintaan batu bara yakni negara seperti Asia Tenggara dan India tetap bergantung pada batu bara sebagai sumber energi utama karena lebih stabil dan terjangkau. Kemudian, tingginya permintaan tak lepas dari krisis energi akibat konflik geopolitik seperti perang di Ukraina. Kondisi itu telah memengaruhi pasokan gas alam sehingga mendorong sejumah negara kembali mengandalkan batu bara.

Faktor lainnya yakni peningkatan permintaan batu bara pada musim dingin atau musim panas yang lebih ekstrem. Dari sisi harga, volatilitas tetap menjadi ciri utama pasar batu bara. Dengan permintaan yang masih kuat dan potensi gangguan pasokan, harga batu bara pada  2025 diperkirakan tetap di kisaran harga 2024 dalam jangka pendek hingga menengah; tergantung pada kondisi pasar global. “[Seperti] kesenjangan logistik dan infrastruktur di beberapa wilayah [Laos] produsen batu bara dan adanya tekanan dari negara-negara maju untuk percepatan transisi energi,” ucap Niko.

Pada penutupan Jumat (20/12/2024), harga batu bara di pasar ICE Newcastle diperdagangkan di US$127,30 per ton, merosot 0,35% dari hari sebelumnya dan 10,04% dari bulan sebelumnya. Secara tahunan, harga batu bara telah terjerembap sebanyak 11,75%.  Asosiasi Pertambangan Batu Bara Indonesia/Indonesian Coal Mining Association (APBI/ICMA) memproyeksikan harga batu bara tetap stabil atau stagnan pada 2025 dari tren tahun ini, lantaran dinamika suplai akan berimbang dengan prospek permintaan yang masih kuat. Plt Direktur Eksekutif APBI/ICMA Gita Mahyarani menuturkan sejauh ini permintaan terbesar batu bara Indonesia untuk pasar ekspor masih berasal dari China. “Mereka sendiri membutuhkan batu bara, [meski] dengan produksi domestik China yang sebanyak +/- 4 miliar ton,” kata Gita. Tidak hanya China, kata Gita, permintaan batu bara oleh India masih akan tetap kuat pada 2025, untuk memenuhi kebutuhan pembangkit di Negeri Bollywood, meski negara tersebut tengah menggenjot produksi batu bara dalam negeri. (mfd/wdh)

Sumber: bloombergtechnoz.com, December 23, 2024

Pabrik Tembaga Raksasa Dunia di RI Akhirnya Resmi Beroperasi

PT Freeport Indonesia (PTFI) bakal menjadi salah satu perusahaan tambang tembaga terintegrasi hulu-hilir terbesar di dunia. Hal ini seiring dengan diselesaikannya pembangunan proyek fasilitas pengolahan dan pemurnian (smelter) tembaga di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Java Integrated Industrial and Ports Estate (JIIPE), Gresik, Jawa Timur.

Proyek yang dibangun sejak Oktober 2021 ini akhirnya telah resmi memproduksi katoda tembaga perdana pada Senin, 23 September 2024 lalu. Produksi perdana katoda tembaga smelter kedua PT Freeport Indonesia ini diresmikan oleh Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi).

Proyek smelter dengan desain single line terbesar di dunia ini memiliki kapasitas pengolahan 1,7 juta ton konsentrat tembaga per tahun dan memproduksi sekitar 600.000-700.000 katoda tembaga per tahun. Bersama dengan smelter pertamanya yang dikelola PT Smelting Gresik, kedua smelter milik PT Freeport Indonesia ini akan memurnikan total 3 juta ton konsentrat tembaga per tahun, dan menghasilkan 1 juta ton katoda tembaga, 50 ton emas, dan 200 ton perak.Dalam sambutannya saat acara peresmian katoda tembaga perdana smelter PTFI ini, Jokowi menyampaikan bahwa pihaknya terus memantau pembangunan smelter ini. Mulai dari 2018 ketika persiapan lahan, groundbreaking pada Oktober 2021, hingga akhirnya kini bisa diresmikan. “2018 persiapan lahan, persiapan lahan selesai saya ke sini untuk ground breaking memulai konstruksi pabrik smelternya, dan setelah 30 bulan alhamdulillah hari ini bisa kita resmikan,” ungkap Presiden Jokowi saat peresmian produksi katoda tembaga perdana smelter PT Freeport Indonesia di KEK JIIPE, Gresik, Jawa Timur, Senin (23/09/2024).

Jokowi memperkirakan, penerimaan negara dari PT Freeport Indonesia bisa tembus Rp 80 triliun, dari dividen, royalti, Pajak Penghasilan (PPh) badan dan karyawan, pajak daerah, hingga bea keluar. “Hitungan-hitungan saya penerimaan negara masuk Rp 80 triliun dari Freeport Indonesia, baik dividen, royalti, PPh badan, PPh karyawan, pajak daerah, bea keluar, pajak ekspor, kira-kira angkanya seperti itu,” tuturnya.

Presiden Jokowi pun menilai bahwa pembangunan smelter PT Freeport Indonesia ini merupakan bagian dari usaha pemerintah untuk menyongsong Indonesia menjadi negara maju. “Pembangunan smelter Freeport Indonesia ini usaha kita menyongsong Indonesia menjadi industri negara maju yang mengolah sumber daya alamnya sendiri dan tidak ekspor raw material dan ini akan buka lapangan pekerjaan yang sangat besar. Dan ini merupakan pelaksanaan dari gagasan dari hilirisasi yang merupakan fondasi ekonomi baru Indonesia yang tidak bertumpu pada konsumsi domestik, karena GDP kita dari konsumsi domestik, tapi kita mau kita mau bertumpu pada produksi,” paparnya.

Dia pun mengaku kagum saat berkeliling smelter ini. Pasalnya, smelter tembaga single line alias jalur tunggal terbesar di dunia ini berada di atas lahan lebih dari 100 ha, tepatnya 104 ha. Presiden Direktur PT Freeport Indonesia (PTFI) Tony Wenas pun membeberkan pihaknya telah mendapatkan pembeli atau offtaker yang akan menyerap 100 ribu ton katoda tembaga per tahun dari smelter miliknya. Adapun pembeli tersebut yakni PT Hailiang Group yang merupakan tetangga mereka. “Ini tetangga kita sudah mulai minta 100 ribu ton per tahun, kira-kira. Dan kemudian kalau kita harapkan juga ada industri-industri turunan lainnya yang akan meng-off take katoda tembaga kita,” ungkap Tony.

Meski demikian, ia juga berharap ada pasar domestik yang dapat menyerap sisa katoda tembaga hasil smelter ini. “Kalau domestik, pasarnya ada, tentu saja kita sangat senang untuk jual domestik. Karena jual domestik, jual ekspor sama aja kalau sudah produk hilir seperti itu ya. Maksudnya sama aja adalah harganya akan sama, ongkos angkutnya lebih murah domestik tentu saja,” ungkap Tony.

Sementara untuk emas, PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) telah resmi memborong 30 ton emas dari unit Precious Metal Refinery (PMR) yang merupakan bagian dari pabrik “raksasa” PT Freeport Indonesia tersebut. Hal ini ditandai dengan telah dilakukannya Penandatanganan Jual Beli Emas Batangan antara PT Freeport Indonesia dan PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) di Jakarta, Kamis (07/11/2024) malam. Adapun operasional penuh dari smelter PTFI ini ditargetkan berjalan pada pertengahan 2025 mendatang, mundur dari rencana awal yang seharusnya beroperasi penuh pada akhir tahun ini. Pasalnya, telah terjadi insiden kebakaran pada unit fasilitas gas di smelter ini pada Senin, 14 Oktober 2024 lalu. Akibatnya, diperlukan waktu hingga 6 bulan untuk smelter ini bisa beroperasi dengan kapasitas penuh.

Mengutip bahan paparan PTFI, investasi kumulatif untuk proyek smelter PTFI di Gresik mencapai Rp 58 triliun atau sekitar US$ 3,67 miliar. Proyek ini merupakan pemenuhan komitmen PTFI terhadap Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK) yang diterbitkan pada tahun 2018. Selain itu, proyek ini juga sejalan dengan inisiatif hilirisasi pertambangan pemerintah yang bertujuan untuk meningkatkan nilai tambah produk di dalam negeri. Dari segi kontribusi finansial, hampir lima dekade lamanya PTFI telah bekerja sama dan memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi lokal dan nasional, serta menjadi mitra strategis Indonesia. Sampai saat ini PTFI setidaknya telah berinvestasi sebesar US$ 18 miliar, termasuk US$ 11 miliar untuk pengembangan Tambang Bawah Tanah dan memberikan kontribusi terhadap Pendapatan Domestik Bruto Nasional sebesar lebih dari US$ 71 miliar sejak 1992. PTFI juga memberikan manfaat langsung kepada Indonesia dalam bentuk pajak, royalti, dividen, dan pembayaran lainnya sebesar US$ 29,3 miliar selama periode 1992-2023. Total manfaat langsung ini melebihi jumlah yang dibayarkan PTFI jika beroperasi di negara-negara lain.

Selain itu, kontribusi tidak langsung dalam bentuk pembayaran gaji karyawan, pembelian dalam negeri, pengembangan masyarakat, pembangunan daerah serta investasi dalam negeri mencapai US$ 64,9 miliar. PTFI juga merupakan penyedia lapangan kerja swasta terbesar di Papua, dengan lebih dari 208.000 pekerjaan yang diciptakan. Di mana sebanyak 64.000 atau 31% di antaranya berada di Papua, sedangkan 144.000 atau 69% di antaranya berada di luar Papua. Dengan begitu, PT Freeport Indonesia tidak hanya menjadi penggerak ekonomi lokal, namun juga memberikan dampak yang signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi nasional, terutama melalui investasi besar di sektor tambang dan hilirisasi industri tembaga di Indonesia. (wia)

Sumber: cnbcindonesia.com, 26 Desember 2024

Bukit Asam (PTBA) Optimistis Ekspor Batubara ke Negara Asean Melonjak di 2025

PT BUKIT Asam Tbk (PTBA) optimistis ekspor batubara ke negara Asean akan melonjak pada 2025. Sekretaris Perusahaan Bukit Asam, Niko Chandra mengungkapkan, PTBA telah sukses mencatatkan penjualan batubara sebesar 31,28 juta ton hingga triwulan III 2024, tumbuh 16% secara tahunan. 

Pencapaian ini ditopang oleh keberhasilan memaksimalkan peluang ekspor ke sejumlah negara yang memiliki prospek pertumbuhan yang tinggi, di antaranya negara-negara Asia Tenggara.  “Misalnya ekspor ke Thailand yang mencapai 1,31 juta ton per triwulan III 2024 alias tumbuh 363% secara tahunan. Sebagai pembanding, penjualan para periode yang sama tahun lalu sebesar 360 ribu ton,” kata Niko kepada Kontan, Kamis (26/12). Lebih lanjut, penjualan ke Vietnam juga naik signifikan menjadi 2,01 juta ton per triwulan III 2024, melesat 346% secara tahunan. Pada periode yang sama tahun lalu, penjualan ke Vietnam sebesar 580 ribu ton.

Di sisi lain, laporan terbaru IEA (International Energy Agency) memberikan indikasi positif bahwa batubara tetap menjadi komponen penting dalam bauran energi global setidaknya hingga 2027. “Kebutuhan energi global, terutama dari sektor pembangkit listrik di negara-negara berkembang (khususnya Asia Tenggara dan Asia Selatan), masih tinggi,” ujar Niko. Untuk itu, Niko bilang PTBA akan memaksimalkan potensi pasar di dalam negeri serta peluang ekspor ke sejumlah negara yang memiliki prospek pertumbuhan yang tinggi, baik pasar eksisting maupun pasar-pasar baru. Sebagai gambaran, PTBA meraup pendapatan senilai Rp 30,65 triliun hingga September 2024. Tumbuh 10,53% dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang kala itu sebesar Rp 27,73 triliun.

Namun, laju bottom line tidak sejalan dengan top line. Laba bersih PTBA merosot 14,32% (yoy) dari Rp 3,77 triliun menjadi Rp 3,23 triliun. Sekretaris Perusahaan Bukit Asam, Niko Chandra mengatakan PTBA menghadapi tantangan dari sisi koreksi harga batubara dan fluktuasi pasar. Niko menerangkan, rata-rata indeks harga batubara ICI-3 merosot sekitar 14% (yoy) dari US$ 86,32 per ton menjadi US$ 74,59 per ton hingga kuartal III-2024. Sedangkan rata-rata indeks harga batubara Newcastle terkoreksi sekitar 28% dari US$ 185,45 menjadi US$ 133,89 per ton. Kondisi ini memengaruhi performa keuangan meski PTBA mampu mendongkrak volume penjualan batubara sekitar 16% (yoy) menjadi 31,28 juta ton. PTBA terus berupaya memaksimalkan potensi pasar di dalam negeri serta peluang ekspor untuk mempertahankan kinerja. Juga mengedepankan cost leadership di setiap lini.

Sumber: industri.kontan.co.id, 26 Desember 2024

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *